Minggu, 20 Mei 2012

Artikel Sastra 5; Tokoh

Sardono Waluyo Kusumo

   Sardono Waluyo Kusumo adalah seorang penari, koreografer, dan sutradara film asal Indonesia. Ia adalah salah seorang tokoh tari kontemporer Indonesia. Sardono pertama kali belajar menari tarian klasik Jawa 'alusan' pada R.T. Kusumo Kesowo (master tari kraton Surakarta). Pada tahun 1961, R.T Kusumo Kesowo menciptakan sendratari kolosal Ramayana yang dipentaskan di Candi Prambanan. Tari kolosal ini melibatkan 250 penari dengan dua set orkestra gamelan. Sardono diserahi tugas untuk menarikan tokoh Hanoman - meskipun ia terlatih sebagai penari 'alusan' bukan 'gagahan'. Pada awalnya ia kecewa, namun tugas ini memberinya inspirasi untuk mengadaptasi gerakan Hanoman di tari Jawa dengan silat yang ia pelajari sejak umur 8 tahun setelah ia melihat komik Tarzan.


   Pada tahun 1968 ia menjadi anggota termuda IKJ pada usia 23 tahun. Pada tahun 1970-an ia mendirikan Sardono Dance Theatre. Sardono pernah mendapatkan penghargaan Prince Claus Awards dari Kerajaan Belanda pada tahun 1997. Sejak 14 Januari 2004 ia adalah Guru Besar Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Sardono W Kusumo juga telah mendapatkan beberapa penghargaan. Seperti:
1. Penghargaan khusus berupa diploma berpriguna dari Pemerintah Meksiko
   (17 Februari 1993)
2. Prince Claus Awards 1997 dari Kerajaan Belanda (18 Desember 1997)
3. Bintang Budaya Parama Dharma (14 Aguatus 2003)
4. Distinguished Artist Award dari International Society of Performing
   Arts (ISPA) (Juni 2003)

  Sardono juga pernah menggelar pameran lukisa-lukisan indahnya di Semarang. tepatnya di Gedung Peek Hous di Kawasan Kota Lama. Lukisan-lukisan indah Sardono yang didominasi oleh permainan ragam warna begitu apik dilihat dalam puluhan kanvas, dan ada juga lukisannya yang berukuran 20 meter. Sardono menjuluki lukisan-lukisannya sebagai warna yang menari diatas kanvas.

Artikel Sastra 4; Perspektif Folklor

Perspektif Folklor dalam Kehidupan Masyarakat Modern


Manusia diberikan kelebihan bila dibandingkan dengan mahluk-mahluk lainnya. Tuhan memberikan kelebihan akal kepada  manusia. Dengan akal yang dimiliki, manusia dapat mempertahankan hidup, beradaptasi, dan mewariskan kebudayaan yang telah dihasilkan kepada generasi penerusnya. Proses pewarisan suatu kebudayaan dilakukan secara langsung melalui pengajaran, dan secara tidak langsung lewat pemberian contoh perilaku sehari-hari.
Masyarakat Indonesia sejak masa lampau telah memiliki kebudayaan. Salah satu bentuk kebudayaan yang telah dihasilkan adalah folklor. Tradisi lisan dalam suatu masyarakat diwariskan secara turun-temurun, sehingga jejaknya masih ditemukan sampai sekarang. Perkembangan folklor dalam kehidupan masyarakat, merupakan perwujudan dari usaha dan cara-cara kelompok tersebut dalam memahami serta menjelaskan realitas lingkungannya, yang disesuaikan dengan situasi alam pikiran masyarakat di suatu zaman tertentu. Alam pikiran masyarakat yang dipandang sebagai lahan paling subur bagi berkembangnya pemikiran seperti itu, menurut Peursen (1976), adalah alam pikiran mistis. Alam pikiran mistis sangat menjiwai (mendasari) tradisi lisan masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu sampai sekarang.
Cara masyarakat menjelaskan atau memahami realitas seperti di atas, bukan merupakan suatu kesengajaan untuk mengacaukan fakta dengan khayalan, tetapi memang merupakan suatu cara dalam menangkap realitas sesuai dengan alam pikiran mereka. Oleh karena itu, tradisi lisan dalam suatu masyarakat bisa beragam bentuknya, tegantung masyarakat yang mendukungnya. Seperti yang dikemukakan oleh Danandjaja (1983), bahwa bagian budaya yang disebut folklor itu dapat berupa bahasa rakyat, ungkapan tradisional, teka-teki (pertanyaan tradisional), sajak dan puisi rakyat, cerita prosa rakyat, seperti mite, legenda, dan dongeng (lelucon dan anekdot), nyanyian rakyat, teater rakyat, permainan rakyat, kepercayaan, seni rupa rakyat, musik rakyat dan gerak isyarat. Iskandar, dkk (2004), menambahkan jenis folklor tersebut berupa pertanyaan tradisional (sama dengan teka-teki), sajak dan puisi rakyat.
Folklor yang berkembang dan diwariskan secara turun-temurun dalam suatu masyarakat, bukan berarti tidak memiliki nilai guna (fungsi). Folklor memiliki fungsi yang sangat mendasar (penting) bagi masyarakat pendukungnya. Menurut Iskandar, dkk (2004) trandisi lisan melukiskan kondisi fakta mental tradisi masyarakat yang mendukungnya, simbol identitas bersama masyarakatnya sehingga menjadi simbol solidaritas dari masyarakatnya, dan menjadi alat legitimasi bagi keberadaan suatu kolektif, baik sebuah marga, masyarakat maupun suku bangsa. Atau seperti yang dikemukakan oleh Danandjaja (1983) yang mengutip pendapat dari Bascom menyatakan bahwa bentuk-bentuk folklor mempunyai fungsi sebagai berikut :
1) sebagai sistem proyeksi; 
2) sebagai alat pengesahan budaya; 
3) sebagai alat paedagogik; dan
4) sebagai alat pemaksa berlakunya norma-norma masyarakat dan pengendalian masyarakat.
Beranjak dari pendapat di atas, maka tradisi lisan yang sudah berkembang dalam masyarakat Indonesia sejak masa lampau, sesuangguhnya masih layak dipertahankan (dilestarikan) dalam kehidupan dewasa ini (masa kini), disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Terlepas dari unsur-unsur mistis yang ada di dalamnya, folklor memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang sangat relevan untuk mendukung kehidupan masyarakat secara kolektif, dan menjadi filter terhadap pengaruh-pengaruh negatif akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi atau era globalisasi. Nilai-nilai dan norma-norma itu menjadi ciri khas dari kelompok masyarakat, mengatur tentang perilaku dan hubungan antarindividu dalam kelompok tersebut. Nilai-nilai dan norma-norma kemudian dikembangkan menjadi adat-istiadat dari suatu kelompok masyarakat pendukungnya. Adat kebiasaan tidak selamnya mecerminkan kekolotan atau keterbelakangan suatu kelompok masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat modern sekarang ini, adat-istiadat tersebut justeru dapat menjadi modal dasar dalam kehidupan kolektif. Nilai-nilai kearifan lokal suatu masyarakat dapat memberikan keseimbangan dan ketertiban (keharmonisan) hidup, melestarikan alam atau lingkungan hidup, dan lain-lainnya. Pewarisannya pada generasi penerus, juga sangat bermanfaat dalam rangka memperkecil adanya kesenjangan budaya pada generasi muda. Pewarisan yang efektif dapat dilakukan melalui pendidikan.

Artikel Sastra 3; Masa Depan

Masa Depan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah
Oleh: Abdul Wahab
Yang menarik perhatian ialah hasil pengamatan Christian Gossweiler, doctor teologi dari Universitas Negeri Tubingen, Jerman. Menurut beliau, setuasi bahas Jawa dan bahasa daerah di Indonesia mengalami nasib yang sama dengan dialek-dialek dan bahasa-bahasa daerah di Eropa. Menurunnya kualitas bahasa-bahasa daerah itu disebabkan oleh adanya upaya memupuk rasa nasionalisme dengan menggunakan bahasa nasional, dan mengalpakan bahasa-bahasa daerah. menurutnya, industrialisasi dan faktor-faktor lain mendukung upaya itu. Apalagi dalam era globalisasi ini ada pelbagai perkembangan yang mencampurkan dan menyeragamkan bahasa dan budaya di seluruh dunia. Dalam bidang bahasa, bahasa Inggris dianggap sebagai satu-satunya bahasa internasional yang semakin banyak digunakan di seluruh dunia. Selain faktor di atas khusus mengenai situasi bahasa daerah di Indonesia, beliau melihat ada lagi faktor lain yang memengaruhi menurunnya kualitas bahasa-bahasa daerah khususnya di Jawa, yaitu:
1. tidak ada lembaga bahasa daerah yang aktif menaggulangi masalah menurunnya bahasa daerah,
2. program penerbitan buku dan kursus-kursus bahasa daerah dengan kebutuhan modern,
3. belum ada usaha menyesuaikan bahasa daerah dengan kebutuhan modern.
4. belum tampak adanya jaringan kerja dan koordinasi di antara sesama forum peduli perkembangan bahasa daerah.
Bagaimana kondisi Sastra Jawa dewasa ini?
  Meskipun penghormatan dan pemeliharaan bahasa Jawa hanya terbatas pada pencantuman gagasan dalam undang-undang dasar pasal 36 dan aturan tambahannya, sastra Jawa berkembang terus dari jaman ke jaman. Pada Jaman Baru, sastra Jawa dibagi menjadi dua--sastra tradisional dan sastra modern. Kreativitas menciptakan karya sastra modern oleh penutur asli bahasa Jawa terus berlangsung hingga sekarang, meski tidak ditulis dalam aksara Jawa.

Puisi (dalam bahasa) Jawa yang pernah dimuat pada berbagai media cetak antara tahun 1940 dan tahun 1980, dikumpulkan oleh Suripan Sadi Hutomo (almarhum) dalam satu antalogi, yaitu Antalogi Puisi Jawa Modern 1940-1980. Itulah sebabnya, betapa pun jelek atmosfir yang meligkunginya, sastrawan tidak akan berhenti berjreasi. Begitulah yang terjadi pada para sastrawan Jawa, Bali, Mkasar, Bugis, Batak, Lampung, Sunda, dan lain-lainnya di tanah air ini.
Bagaimana halnya dengan Aksara Jawa saat ini?
   Meskipun penutur asli bahasa Jawa merupakan penutur yang jumlahnya paling besar dibanding dengan penutur-penutur bahasa daerah lainnya di Nusantara, nasib aksara Jawa lebih buruk dari nasib aksara Bali. Aksara Jawa sekarang ini kedudukannya sebagai pengetahuna saja yang diajarkan kepada siswa sekolah dasar mulai kelas tiga sampai kelas lima. Pengajaran aksara Jawa sekarang tidak sampai menjadi keterampilan karena tidak difungsikan sebagai representasi otografis bahasa Jawa. Oleh karena itu, mata pelajaran bahas Jawa termasuk pengetahuan menuliskan aksara Jawa tidak akan dapat menempati kedudukan sebagai kebutuhan hidup orang Jawa, melainkan dianggap sebagai siksaan oleh para siswa, karena mereka beranggapan bahwa pengajaran pengetahuan menulis aksara Jawa itu hanya menambah beban pekerjaan mereka saja.

Meskipun Belanda dianggap sebagai biang keladi menurunnya derajat bahasa, sastra, dan aksara Jawa (dalam Riyadi, 2002: 5), pemerintah Belanda sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia masih menghormati dan memelihara aksara Jawa dengan memberikan fungsi pada urusan-urusan resmi misalnya dalam peringatan akan bahasa listik dan pecahan mata uang. Generasi Jawa di bawah usia 50 tahun tahu akan Jawa, tetapi tidak dapat membaca dengan lancar, apalagi menulisnya sebagai alat melahirkan cipta, rasa, karsa, dan karyanya, baik yang menyangkut urusan formal, maupun yang menyangkut urusan informal dalam kehidupan sehari-hari.


(Sumber wacana: http://sastraadiguna.com/index.php/2011/10/masa-depan-bahasa-sastra-dan-aksara-daerah-4/)

Artikel Sastra 2; Sastra Jepang

Prospektif, Peluang Lulusan Sastra Jepang

Banyaknya perusahaan Jepang yang berinvestasi di Indonesia sehingga membutuhkan tenaga kerja yang mempunyai keahlian bahasa Jepang, mendorong Undip Semarang membuka S1 Sastra Jepang. Surat Keputusan tentang izin penyelenggaraan program studi tersebut sudah terbit pada 30 Oktober 2009, sehingga tahun ini S1 Sastra Jepang sudah bisa melaksanakan program belajar-mengajar.

Pendirian program studi tersebut terlaksana berkat kerja sama antara akademika FIB Undip dengan Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia serta Japan Foundation. Kerja sama itu sendiri sudah dilakukan sejak 1999 dengan pendirian D1 Bahasa Jepang, kemudian pada 2003 dikembangkan dengan pembukaan D3 Bahasa Jepang yang dibantu pemutur asli dari Jepang dengan sertifikat Silver Expert.

Banyak sekali kesempatan beasiswa yang bisa diperoleh oleh masyarakat Indonesia melalui situs www.jasso.com. Selain itu juga ada beberapa beasiswa yang disediakan perusahaan-perusahaan besar Jepang.