Minggu, 20 Mei 2012

Artikel Sastra 3; Masa Depan

Masa Depan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah
Oleh: Abdul Wahab
Yang menarik perhatian ialah hasil pengamatan Christian Gossweiler, doctor teologi dari Universitas Negeri Tubingen, Jerman. Menurut beliau, setuasi bahas Jawa dan bahasa daerah di Indonesia mengalami nasib yang sama dengan dialek-dialek dan bahasa-bahasa daerah di Eropa. Menurunnya kualitas bahasa-bahasa daerah itu disebabkan oleh adanya upaya memupuk rasa nasionalisme dengan menggunakan bahasa nasional, dan mengalpakan bahasa-bahasa daerah. menurutnya, industrialisasi dan faktor-faktor lain mendukung upaya itu. Apalagi dalam era globalisasi ini ada pelbagai perkembangan yang mencampurkan dan menyeragamkan bahasa dan budaya di seluruh dunia. Dalam bidang bahasa, bahasa Inggris dianggap sebagai satu-satunya bahasa internasional yang semakin banyak digunakan di seluruh dunia. Selain faktor di atas khusus mengenai situasi bahasa daerah di Indonesia, beliau melihat ada lagi faktor lain yang memengaruhi menurunnya kualitas bahasa-bahasa daerah khususnya di Jawa, yaitu:
1. tidak ada lembaga bahasa daerah yang aktif menaggulangi masalah menurunnya bahasa daerah,
2. program penerbitan buku dan kursus-kursus bahasa daerah dengan kebutuhan modern,
3. belum ada usaha menyesuaikan bahasa daerah dengan kebutuhan modern.
4. belum tampak adanya jaringan kerja dan koordinasi di antara sesama forum peduli perkembangan bahasa daerah.
Bagaimana kondisi Sastra Jawa dewasa ini?
  Meskipun penghormatan dan pemeliharaan bahasa Jawa hanya terbatas pada pencantuman gagasan dalam undang-undang dasar pasal 36 dan aturan tambahannya, sastra Jawa berkembang terus dari jaman ke jaman. Pada Jaman Baru, sastra Jawa dibagi menjadi dua--sastra tradisional dan sastra modern. Kreativitas menciptakan karya sastra modern oleh penutur asli bahasa Jawa terus berlangsung hingga sekarang, meski tidak ditulis dalam aksara Jawa.

Puisi (dalam bahasa) Jawa yang pernah dimuat pada berbagai media cetak antara tahun 1940 dan tahun 1980, dikumpulkan oleh Suripan Sadi Hutomo (almarhum) dalam satu antalogi, yaitu Antalogi Puisi Jawa Modern 1940-1980. Itulah sebabnya, betapa pun jelek atmosfir yang meligkunginya, sastrawan tidak akan berhenti berjreasi. Begitulah yang terjadi pada para sastrawan Jawa, Bali, Mkasar, Bugis, Batak, Lampung, Sunda, dan lain-lainnya di tanah air ini.
Bagaimana halnya dengan Aksara Jawa saat ini?
   Meskipun penutur asli bahasa Jawa merupakan penutur yang jumlahnya paling besar dibanding dengan penutur-penutur bahasa daerah lainnya di Nusantara, nasib aksara Jawa lebih buruk dari nasib aksara Bali. Aksara Jawa sekarang ini kedudukannya sebagai pengetahuna saja yang diajarkan kepada siswa sekolah dasar mulai kelas tiga sampai kelas lima. Pengajaran aksara Jawa sekarang tidak sampai menjadi keterampilan karena tidak difungsikan sebagai representasi otografis bahasa Jawa. Oleh karena itu, mata pelajaran bahas Jawa termasuk pengetahuan menuliskan aksara Jawa tidak akan dapat menempati kedudukan sebagai kebutuhan hidup orang Jawa, melainkan dianggap sebagai siksaan oleh para siswa, karena mereka beranggapan bahwa pengajaran pengetahuan menulis aksara Jawa itu hanya menambah beban pekerjaan mereka saja.

Meskipun Belanda dianggap sebagai biang keladi menurunnya derajat bahasa, sastra, dan aksara Jawa (dalam Riyadi, 2002: 5), pemerintah Belanda sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia masih menghormati dan memelihara aksara Jawa dengan memberikan fungsi pada urusan-urusan resmi misalnya dalam peringatan akan bahasa listik dan pecahan mata uang. Generasi Jawa di bawah usia 50 tahun tahu akan Jawa, tetapi tidak dapat membaca dengan lancar, apalagi menulisnya sebagai alat melahirkan cipta, rasa, karsa, dan karyanya, baik yang menyangkut urusan formal, maupun yang menyangkut urusan informal dalam kehidupan sehari-hari.


(Sumber wacana: http://sastraadiguna.com/index.php/2011/10/masa-depan-bahasa-sastra-dan-aksara-daerah-4/)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar